Minggu, 16 Juni 2013

Sejarah Masuknya Islam di Kalimantan Selatan (kerajaan banjar)

Masuknya Islam di Kalimantan
Selatan (Kerajaan Banjar)
Mengenai kapan masuknyba Islam ke
Kalimantan Selatan sebenarnya
tidak ditemukan secara pasti tentang
catatan sejarah yang berkenan
dengan hal tersebut, namun secara
kesimplan dapat dikemukakan
bahwa awal masuknya Islam ke
Kalimantan Selatan tidak bersamaan
dengan berdirinya Kerajaan Banjar
tetapi masuknya Islam sendiri ada
sebelum terbentuknya Kerajaan
Banjar. Kalau kerajaan banjar
terbentuk pada permulaan abad
ke-16 berarti masuknya Islam di
Kalimantan Selatan terjadi sebelum
itu. Mengenai hal tentang bagai
mana awal masuk Islam ke
Kalimantan Selatan ini alangkah
bagusnya kita sedikit memandang
kepada sebuah hikayat yang
menyinggung dengan hal tersebut
walaupun sebenarnya bentuk-bentuk
hikayat merupakan hal yang sukar
untuk dijadikan sebagai tolak ukur
dalam pandangan kajian sejarah ,
namun menurut penulis hikayat
tidak ada salahnya kita lirik sebagai
pengayaan dalam kajian sejarah
kita.
Dalam hal sejarah awal masuknya
Islam ke Kalimantan Selatan ini ada
di singgung dalam Hikayat Lambung
Mangkurat yang menceritakan
tentang Raden Sekar Sungsang dari
Negara Dipa yang lari ke tanah
Jawa. Sebenarnya dalam hikayat ini
akan berhubungan dengan Sunan
Giri nantinya, yang mana Sunan Giri
termasuka adalah salah seorang dari
tokoh penyebaran Islam di
Indonesia. Hikayat ini menceritakan
tentang kelakuan Raden Sekar
Sungsang di waktu kecil yang suka
mengganggu ibunya Puteri
Kaburagan yang juga dikenal dengan
Puteri Kalungsu, atas kelakuannya
itu maka iapun dipukul kepalannya
hingga mengeluarkan darah.
Semenjak itulah iapun melarikan diri
dan ikut dengan Juragan Petinggi
atau Juragan Balaba yang berasal
dari Suraya, iapun dipelihara oleh
Juragan Balaba sebagai anaknya
sendiri dan setelah dewasa
dikawinkan dengan anak
perempuannya sendiri dan akhirnya
melahirkan dua orang anak Raden
Panji Sekar dan Raden Panji dekar.
Kedua anaknya tersebut berguru
kepada Sunan Gunung Giri. Raden
sekar kemudian diambil menantu
oleh Sunan Giri dan iapun kemudian
diberi gelar dengan Sunan Serabut.
Raden Sekar Sungsang kemudian
kembali menjalankan perdangannya
sampai kenegara Dipa, dia adalah
seorang pedagang yang tampan dan
banyak berhubungan dengan pihak
kerajaan Negara Dipa dan pada
akhirnya iapun mengawini Putri
Kalungsu penguasa Negara Dipa yang
sebenarnya adalah ibu kandungnya
sendiri. Setelah Putri Kalungsu hamil
barulah trungkau kalau sebenarnya
Raden Sekar Sungsang adalah
anaknya yang dulu hilang, maka
akhirnya merekapun bercerai.
Raden Sekar Sungsangpun
memindahkan pemerintahannya
menjadi Negara Daha yang erlokasi
di sekitar Negara sekarang. Dan
ibunya tetap di Negara Dipa yang
sekarang di sekitar Amuntai. Dari
Raden Sekar Sungsang lahir Raden
Samudera yang menjadi Sultan
Suriansyah raja pertama dari
kerajaan Banjar. Raden Sekar
Sungsang adalah raja pertama dari
Negara Daha dengan menyandang
gelar Raden Seri kaburangan dan
pada masa kekasaannya dia erus
menjalin hubungan terhadap Giri
dengan pembayaran upeti setiap
tahunnya . Kalau Raden Sekar
Sungsang ketika di Jawa melahirkan
seorang putra yakni Raden Panji
Sekar yang selanjutnya menjadi
menantu Sunan Giri, berarti ada
indikasi bahwa ia sudah memeluk
agama Islam ketika itu.
Kalau Kerajaan Banjar yang
bercorak Islam terbentuk pada
permulaan abad ke-16 berarti
masyarakat Islam Banjar sudah
terbentuk pada abad ke-15, oleh
karena itulah maka paling tidak
masuknya agama Islam ke
Kalimantan Selatan terjadi pada
permulaan abad ke-15. Karena
corak sebuah kerajaan terbentuk
apabila ada unsure-unsur yang
sudah melekat lebih dahulu pada
masyarakan pembentuk kerajaan
tersebut. Tetapi hal yang dapat kita
tarik kesimpulan adalah bahwa
ajaran Islam sudah mulai
menyelinap masuk ke Negara Dipa
Kalimantan Selatan sekitar abad
ke-13-14 Masehi.
Mengenai siapa yang menyampaikan
ajaran Islam tentunya hal ini sangat
dipengaruhi oleh ajaran Islam ini
sendiri yang menyuruh kepada
pemeluknya untuk saling
menyampaikan kebaikan serta
ajaran Islam itu sendiri siapapun
orangnya, jadi mulai dari kalangan
ulama, pemeluknya secara umum
bahkan para pedagang muslim yang
melakukan pelayaranpun sangat
memungkinkan untuk membantu
menyebarnya ajaran Islam itu
sendiri dan hal tersebut tidak
menutup kemungkinan terjadi di
daerah Banjar ini sendiri.
Jalur penyebaran Islam di Indonesia
sendiri adalah melalui jalur
perdagangan, jadi dengan kata lain
masuknya pembawaan ajaran Islam
ke Indonesia ini adalah melalui jalur
perdagangan yang tentunya kota-
kota pusat perdaganganlah yang
menjadi awal persinggahan
masuknya Islam di Indonesia ini.
Dan pada kota perdagangan
biasanya terjadi interaksi budaya
dan agama selain fungsi kota tersebut
sendiri sebagai wilayah penggerak
perekonomian. Oleh karena itulah
pemeluk agama Islam awal-awalnya
kebanyakan adalah mereka yang
berada di kota pusat perdagangan
yang berada di pinggiran pantai
maupun sungai, dan yang menjadi
pembawa agama Islam itu sendiri
pada saat itu tentunya kebanyakan
para pedagang yang memeluk agama
Islam atau pedagang yang bersetatus
sebagai ulama.
Marwati Djoned dan Nugroho
Notosusant sebagaimana yang telah
dikutip oleh Nor Huda di dalam
Islam Nusantara menyatakan salah
satu faktor yang mempengaruhi
perkembangan sebuah kota adalah
faktor geografis dan magis telegius ,
sebagai derah yang mulai
berkembang pada saat itu tentunya
Banjarmasin mempunyai hal
tersebut dan hal tersebutlah yang
menjadikan adanya kemudahan
Islam masuk kedaerah ini.
Banjarmasin yang terletak di muara
sungai Barito memungkinkan kapal
besar dari pantai dapat masuk
pelabuhan disana, dalam peta
Kalimantan jarak anjarmasin
dengan Muara Bahan yang sekarang
dikenal dengan Marabahan sekitar
50 km tetapi jarak ini menjadi jauh
dikarenakan jarak yang ditempuh ke
Banjarmasin harus melalui sungai
yang berkelok-kelok sehingga ketika
Pangeran Samudra
memindahkannyake Banjarmasin
mendapat sambutan yang luar biasa
dari para saudagar. Dan setelah
itulah perdagangan menjadi ramai di
Banjarmasin, dari sini nampak ada
perbedaan corak perekonomian
antara Negara Daha dengan Banjar
masin, kalau Banjarmasin bercorak
perdagangan adapun Negara Daha
lebih kepada pertanian.
Salah satu masa penting dalam
Islamisasi di Kalimantan adalah
sebagai mana yang termuat dalam
hikayat Banjar yang
menggambarkan tentang hubungan
Banjar dengan Demak. Disebutkan
dalam hikayat tersebut bahwa Raja
Banjar Raden Samudra telah
ditasbihkan sebagai Sulan oleh
penghulu Demak dan oleh seorang
Arab yang diberi gelar Sultan
Suryanullah.
Hubungan antara Banjar dengan
demak sudah terjadi dalam waktu
yang cukup lama, terutama dalam
bidang ekonom yang kemudian
berimbas kepada hubungan militer
ketika Pangeran Samudra
berhadapan dena Raja Daha
Pangeran Tumenggung. Dalam
hikayat banjar disebutka bahwa
Pangeran Samudera mengirim duta
ke Demak untuk mengadakan
hubungan kerjasama militer. Utusan
yang di utus tersebut adalah Patih
Balit, seorang pembesar kerajaan
Banjar. Utusan pn dating menghadap
Sultan Demak dengan membawa
beberapa hadiah sebagai tanda
persahabatan berupa sepikul rotan,
seribu buah tudung saji, sepuluh
pikul lilin, seribu bongkah damar,
sepuluh biji intan. Penggiring duta
kerajaan ini sekitar 400 orang. Dan
pihak kesultanan Demakpun
menerima utusan keajaa Banjar ini,
dan sebagai pemegang syiar Islam
tentunya pihak Demakpun meminta
kepada utusan kerajaan Banjar, agar
Raja Banjar dan semua pembesarnya
memeluk agama Islam.
Berdasarkan beberpa uraian di atas
dapat kita ketahui bahwa awal
masuk Islam ke Kalimantan Selatan
khusunya Kerajaan Banjar pada
zaman dulu adalah setelah terjadi
proses islamisasi di Nusantara, jadi
masuknya adalah sekitar abad ke-15
dan 16. Adapun masuknya adalah
berasal dari wilayah kepulauan Jawa
yakni wilayah Demak yang saat itu
sebagai kerajaan yang bercorak
Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar